Senin, 14 Desember 2015

Budaya Sedekah Laut - Pantai Teluk Penyu


Salah satu budaya yang secara turun-temurun masih dilakukan adalah Sedekah Laut, puncak ritual nya dilakukan di Pantai Teluk Penyu. pantai ini merupakan destinasi wisata yang sangat populer di Cilacap.  adanya ritual kebudayaan Sedekah Laut ini menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi kepariwisataan Kabupaten Cilacap.

Awal prosesi dari Pendopo

Tradisi rutin ini dilakukan setiap bulan Syuro (penanggalan islam) oleh masyarakat dan didukung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap. Tradisi ini berupa arak-arakan jolen dengan rute dari Alun-alun Kabupaten Cilacap hingga menuju Pantai Teluk Penyu. Biasanya rute arak-arakan ini dimulai dari Pendopo Wijayakusuma Cakti - Jl. Jend. Sudirman - Jl. Wiratno - Jl. Pemintalan - Jl. Kendalwesi - Jl. Veteran - Jl. Dayung - Jl. Pasir Mas - dan berakhir di Pantai Teluk Penyu. 




Upacara Sedekah Laut adalah salah satu perwujudan rasa syukur para nelayan sekitar pantai-pantai di Cilacap. upacara ini didahului dengan acara prosesi membawa sesaji (jolen) untuk dibawa ke tengah laut lepas dari pantai Teluk Penyu. Jolen tersebut diarak dari Pendopo Kabupaten Cilacap menuju arah Pantai Teluk Penyu dengan diiringi oleh jolen tunggul dan diikuti oleh jolen-jolen lainnya oleh peserta prosesi yang berpakaian adat tradisional Kabupaten Cilacap tempo dulu. Setibanya di Pantai Teluk Penyu sesaji kemudian dipindahkan ke kapal nelayan yang telah dihias dengan hiasan warna-warni untuk dibuang ke tengah lautan di suat kawasan pulau kecil yang bernama Pulau Majethi. Tradisi ini bermula dari perintah Bupati Cilacap III Tumenggung Tjakrawerdaya III yang memerintahkan kepada sesepuh nelayan Pandanarang bernama Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji ke laut selatan beserta nelayan lainnya pada hari Jumat Kliwon bulan Syuro tahun 1875 dan semenjak tahun 1983 diangkat sebagai atraksi wisata. 


saat melempar jolen ke laut lepas

sebelum hari pelaksanaan  upacara sedekah laut, terlebih dahulu melakukan prosesi nyekar atau ziarah ke pantai Karang Bandung (pulau Majethi) sebelah timur tenggara pulau Nusakambangan yang dilakukan oleh ketua adat nelayan Cilacap yang diikuti berbagai kelompok nelayan serta masyarakat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan pada musim panen ikan melimpah dan diberi keselamatan. Disamping ritual tersebut, juga ada ritual mengambil air suci/ bertuah di sekitar Pulau Majethi yang menurut legenda tempat tumbuhnya Bunga Wijayakusuma. Lalu pada malam hari nya dilanjutkan dengan acara-acara kesenian di berbagai daerah oleh kelompok nelayan yang bersangkutan. Pada malam sebelum puncak acara, masyarakat dari luar kota Cilacap sudah banyak yang berdatangan di Teluk Penyu untuk sekedar melihat ritual upacara Sedekah Laut ini, dan biasanya keramaian terjadi saat lebaran. Upacara Sedekah Laut ini bukan sebuah atraksi wisata yang baru, tapi sudah turun temurun dan dapat dibilang termasuk wisata yang bersejarah. 


Minggu, 13 Desember 2015

NUSAKAMBANGAN


Apakah yang terlintas di benak anda jika mendengar nama Nusa Kambangan?? Pastinya yang anda pikirkan adalah tempat huninya narapidana yang jauh dari keramaian, serem!, dan pulau terpencil yang memiliki super maximum security untuk memantau narapidana yang  ingin kabur. Yupps.. ada benarnya juga dugaan anda, tapi belum afdol rasanya kalau hanya menduga-duga, sebaiknya kita ketahui dahulu bagaimana asal-usul sejarahnya. Berikut adalah sejarahnya..

Nusa Kambangan adalah nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia.



Pulau ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia. Untuk mencapai pulau ini orang harus menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan khusus yang di kelola oleh Departemen Kehakiman R.I. yaitu dari Pelabuhan Sodong menyebrang ke Cilacap, Jawa Tengah selama kurang-lebih lima menit dan bersandar di Pelabuhan feri Wijayapura di Cilacap. Feri penyebrangan khusus ini juga di nakhodai dan di awaki oleh Petugas Pemasyarakatan (pegawai LP), bukan dari Departemen Perhubungan, khusus untuk kepentingan transportasi pemindahan narapidana dan juga melayani kebutuhan tranportasi pegawai LP itu sendiri beserta keluarganya.

Pulau Kambangan, yang berstatus sebagai cagar alam, selain sering digunakan untuk latihan militer, juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka, namun banyak yang telah ditebang secara liar. Saat ini yang tersisa kebanyakan adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar. Kayu plahlar (Dipterocarpus litoralis) yang hanya dapat ditemukan di pulau ini banyak dicuri karena setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu meranti dari Kalimantan. Secara tradisional, penerus dinasti Kesultanan Mataram sering melakukan ritual di pulau ini dan menjadikannya sebagai "hutan ritual". 

Di bagian barat pulau, di sebuah gua yang terletak di areal hutan bakau, ada semacam prasasti peninggalan zaman VOC. Di ujung timur, di atas bukit karang, berdiri mercu suar Cimiring dan benteng kecil peninggalan Portugis. Berbagai macam tumbuhan khas ritual budaya Jawa ditanam di sini.

Nusa Kambangan tercatat sebagai pertahanan terakhir dari tumbuhan wijayakusuma yang sejati. Dari sinilah nama pulau ini berasal: Nusa Kembangan, yang berarti "pulau bunga-bungaan". 



Istilah "Penjara Nusakambangan" adalah sebuah kerancuan dalam pengertian khalayak ramai. Karena  Tidak ada satupun nama penjara atau Lapas yang ada di Indonesia ini yang bernama demikian. Di Nusa Kambangan berdiri beberapa lembaga pemasyarakatan (Lapas atau LP) bertingkat keamanan tinggi di Indonesia.

Semula terdapat sembilan LP di Nusa Kambangan (untuk narapidana dan tahanan politik), namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu: 

LP Batu (dibangun 1925),
LP Besi (dibangun 1929),
LP Kembang Kuning (tahun 1950),
dan LP Permisan (tertua, dibangun 1908).

Lima lainnya,
yaitu Nirbaya,
Karang Tengah,
Limus Buntu,
Karang Anyar,
dan Gleger, telah ditutup.

namun sekarang sudah dibangun untuk penjara khusus narkoba dan penjara terbuka serta penjara super maksimum security. Wilayah selatan pulau menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan pantai berkarangnya dan ombak besar. Wilayah utara menghadap Cilacap dan dikelilingi kampung-kampung nelayan sepanjang hutan bakau, antara lain Kampung Laut dan Jojog.

Penghuni pulau hanya para narapidana dan pegawai LP beserta keluarganya, di bawah pengawasan Departemen Kehakiman dan Pemda Cilacap. Keluar-masuk pulau ini harus memiliki izin khusus dengan prosedur tertentu.

Anak-anak para pegawai bersekolah di SD yang tersedia di dalam pulau.
Untuk meneruskan ke tingkat lanjutan (SMP, SMU, atau perguruan tinggi), mereka harus bersekolah di Cilacap atau kota lainnya di Pulau Jawa. 

Dan Menurut Mitos / dongeng yang ada, Nusakambangan, jaman dahulunya adalah sebuah perahu, dan sewaktu - waktu entah kapan bisa tenggelam ke dalam laut. dan menurut cerita jaman dahulu (dari nenek moyang), Nusakambangan akan tenggelam jika sebuah "Pisang" dibeli dengan "Uang emas". hingga akhirnya nusakambangan menjadi sebuah pasar yang sangat rame. namun itu hanya sebuah dongeng, tapi jika melihat perputaran jaman, bukan hal yang tak mungkin semua itu terjadi, karna semua memang bisa dibeli di negara Indonesia.

jika wisatawan masuk ke obyek wisata nusakambangan, wisatawan harus jalan yang cukup jauh untuk bisa pergi ke pantainya, namun baru baru ini pemerintah telah menyediakan mobil angkut wisatawan atau yang disebut 'odong - odong', dengan odong - odong wisatawan tak harus lagi berjalan jauh, namun menurut saya lebih asyik jalan karena bisa merasakan pulau nusakambangan tersebut, tidak hanya pantai pasir putih disana namun banyak lagi obyek wisata disana seperti goa, benteng pertahanan penjajah dulu.

banyak sekali peninggalan pada masa perang di Nusakambangan, jadi bila anda berkunjung ke nusakambangan, anda bisa merasakan betapa kerasnya pada masa penjajahan dulu dan anda bisa menikmati peninggalan - peninggalanya begitu pula pantainya lyang romantis dan menarik
summer: http://nyimaswida.blogspot.co.id/2011/11/history-of-nusa-kambangan.html

GUNUNG SRANDIL



Goa gunung Srandil merupakan bukti sejarah yang luar biasa di mata masyarakat Indonesia, dan juga di mata dunia. Selain keunikan dan keindahanya, tempat ini merupakan tempat wisata yang populer. Disamping wisata alam dan budaya juga terdapat wisata spiritual atau religius antara lain di gunung srandil dan selok.


Gunung srandil merupakan salah satu bukit yang ada di Glempang pasir Kecamatan Adipala jarak antara obyek wisata dengan Kota Cilacap 30 Km kearah timur laut dan relatif mudah ditempuh dengan kendaraan penumpang bus umum jurusan Cilacap-Jatijajar - Kebumen atau kendaraan pribadi karena jalannya sudah beraspal dan dekat dengan jalan lintas selatan-selatan.



Gunung Srandil setiap hari dikunjungi orang untuk berziarah oleh karena tempat tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja tetapi sampai keluar Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, Bali. dan Sulawesi, maka yang berkunjung tujuannya bermacam-macam. Para peziarah biasanya berkunjung atau bertapa pada Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada Bulan Syura.

Konon menurut cerita penghuni pertama Gunung Srandil adalah Sultan Mukhriti putra kedua dari Dewi Sari Banon Ratu Sumenep Jawa Timur.


Kedatangan Sultan itu untuk bertapa namun Sultan Mukhriti murca (menghilang) yang ada tinggal petilasannya yang terletak di sebelah timur yang di kenal dengan Embah Gusti Agung Sultan Mukhriti.


Selain itu juga ada legenda rakyat yang pertama bermukim di gunung Srandil adalah dua orang bernama Kunci Sari dan Dana Sari, mereka adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang tidak mau menyerah kepada bala tentara Belanda. Mereka melarikan diri ke Gunung Srandil untuk bersembunyi dan meninggal di sini . Makam kedua prajurit tersebut berada di sebelah timur Gunung Srandil dalam satu komplek yang dipagar keliling yang kemudian hari, Kunci Sari dikenal dengan nama Sukma Sejati


Di Gunung Srandil banyak petilasan orang-orang yang dianggap mempunyai kedigdayaan yang linuwih atau kemampuan melebihi orang lain yang dikenal sebagai tokoh- tokoh orang sakti mandraguna. Dari kemampuannya, kesaktiannya itu maka tempat-tempat yang di singgahi dianggap keramat dan disakralkan.



Adapun petilasan-petilasan yang ada di Gunung Srandil adalah Mbah Kanjeng Gusti Agung, Nyai Dewi Tanjung Sekarsari, Kaki semar Tunggul Sabdojati Dayo amongrogo, Juragan Dampo Awang, Kanjeng Gusti Agung Akhmat atau Petilasan Langlang Buwana yang berada diatas bukit dan petilasan Hyang Sukma Sejati.

di gunung srandil sering dijumpai para artis artis yang berwisata disana ataupun bertapa di gunung srandil, karena disana banyak sekali tempat tempat untuk bertapa disana dan banyak sekali petilasan petilasan orang yang dianggap sakti mandraguna, bahkan soeharto sebelum menjabat menjadi presidenpun bertapa dulu di gunung srandil ini, dan masih banyak pula pejabat yang sebelum menjabat bertapa dulu di gunung srandil ini, entah kepercayaanya pada hal tersebut atau mungkin sebuah sugesti saja namun konon katanya jika pernah bertapa digunung srandil apa saja bisa dicapai, akan tetapi harus usaha dengan keras.dan masih banyak lagi ritual ritual yang lain yang dilakukan digunung srandil

BENTENG PENDEM

Wisata sejarah benteng pendem cilacap

benteng pendem

Benteng pendem merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh tentara kerajaan belanda pada masa pemerintahan hindia belanda di Indonesia. Untuk mempertahankan wilayah jajahannya, maka pada kurun waktu antara tahun 1861 sampai dengan 1879 dibangunlah benteng pertahanan diujung tenggara kota cilacap dengan bentuk bangunan sebagaimana benteng pertahanan pada umumnya, namun pada bagian atasnya ditimbuni tanah dan ditumbuhi pepohonan perdu sehingga dari kejauhan tidak terkesan adanya suatu bangunan benteng pertahanan, disamping itu di sisi selatan terlindung oleh pulau nusakambangan. Pemerintah hindia belanda menamai benteng pendem ini sebagai “Kusbatterij op de land tong te tjilatjap” yang artinya “tempat pertahanan pantai di atas tanah menjorok ke laut menyerupai bentuk lidah”.



Benteng-Pendem-Cilacap-659x494Benteng Pendem dahulunya merupakan markas pertahanan tentara Belanda di CilacapJawa Tengah yang didesain oleh arsitek Belanda. Benteng ini difungsikan untuk menahan serangan yang datang dari arah laut bersama dengan Benteng Karang BolongBenteng Klingker, dan Benteng Cepiring. Benteng Pendem difungsikan hingga tahun 1942. Ketika perang melawan Pasukan Jepang, benteng ini berhasil dikuasai Jepang. Tahun 1941, Jepang meninggalkan benteng ini karena kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu; sehingga, benteng ini diambil alih oleh TNI Banteng Loreng Kesatuan Jawa Tengah. Dalam penguasaan TNI, benteng ini digunakan para pejuang kemerdekaan berlatih perang dan pendaratan laut.Setelah 21 tahun benteng pendem ini terlantar tanpa ada yang memanfaatkannya, yaitu pada kurun waktu 1965-1986, pada tahun 1986 seorang warga cilacap bernama Ady Wardoyo mencoba menggali dan menata lingkungan benteng pendem sehingga mulai tanggal 28 April 1987 secara resmi dibuka sebagai tempat wisata sampai saat ini.
Bangunan benteng pendem terdiri dari beberapa ruang yang masih kokoh hingga kini. Namun, sejak awal ditemukan, ruangan dalam benteng belum sepenuhnya diketahui. Ruangan dalam benteng yang umum diketahui terdiri dari barak, benteng pertahanan, benteng pengintai, ruang rapat, klinik pengobatan, gudang senjata, gudang mesiu, ruang penjara, dapur, ruang perwira, dan ruang peluru. Ada pula yang menyatakan bahwa dalam benteng tersebut terdapat terowongan menuju benteng-benteng lain dan sejumlah gua di pulau Nusakambangan. Namun, hingga kini hal itu belum sepenuhnya terbukti.Benteng pendem ini terletak di bagian tenggara kota cilac
ap, kecamatan cilacap selatan dengan luas sekitar 10,5 ha dan letak geografis sebagai berikut :
– Batas timur adalah samudera Indonesia
– Batas selatan adalah selat nusakambangan
– Batas barat adalah kantor pertamina
– Batas utara adalah tangki penampungan minyak mentah pertamina
Jarak tempuh dari terminal bus sekitar 5 km, dari pusat pemerintahan kabupaten cilacap sekitar 2 km, dari perkampungan terdekat kampung kebonjati sekitar 500 meter.

banyak pengunjung yang datang namun bukan sekedar berfoto namun banyak juga yang lainya seperti kunjungan berbagai sekolahan di Cilacap dan kota kota yang lain untuk keperluan edukasi
didalam benteng pendem juga terdapat rusa yang dibiarkan berkeliaran maksudnya tidak dikasih kandang, jadi kita bisa melihat hewan sebagaimana dialamnya sendiri, banyak permainan juga yang dibangun bertujuan untuk relaksasi, sebagian pedagang biasanya berdagang didekat area permainanya tersebut, kita juga dapat menjumpai pedagang yang berjualan souvenir asli cilacap contohnya lukisan, kerang yang dijadikan perhiasan contohnya kalung, gelang, dll

sumber ; http://paketwisatayogyakarta.com/wisata-sejarah-benteng-pendem-cilacap/

GUNUNG SELOK


1. GUNUNG SELOK






Hutan Gunung Selok terletak di Desa Karangbenda Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Hutan itu berada pada ketinggian 300 meter di atas pemukaan laut (dpl), sekitar 20 km sebelah tenggara Kota Cilacap.
Di sana ada Gunung Selok yang kental dengan kharisma mistiknya. Gunung kecil sekitar 10 km dari Toko Bunga Cilacap yang berhadapan langsung dengan Pantai Selatan Jawa, kini menjadi wisata spiritual yang dikelola Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur.
Dari atas Gunung Selok, juga dapat melihat keindahan Samudera Hindia yang membentang di sebelah selatan. Kawasan itu sudah puluhan tahun menjadi pusat spiritual kejawen sekaligus beberapa kepercayaan. Tidak hanya itu saja, di sana juga ada petilasan seorang Syeh untuk penganut IslamKejawen, agama Hindu, dan Budha. Meski beragam kepercayaan dan idiologi, para jemaatnya bisa hidup berdampingan secara damai.
Begitu memasuki pintu gerbang arah  Gunung Selok, dijumpai sebuah bangunan Pura “Mandala Giri” untuk tempat persembahyangan penganut Hindu. Kemudian menyusur jalan beraspal menembus hutan, dengan kemiringan yang cukup tajam. Sampai pada tanah datar terdapat lima pohon pinang (jambe). Di sebelahnya pohon jambe ada bangunan, dikenal sebagai Pedepokan Jambe Lima atau Cemara Seta.
Dlam bangunan padepokan, ada dua makam, yang sangat dirawat, lengkap dengan kelambu, karpet merah untuk duduk orang-orang yang akan ngalap berkah. Di belakang makam terdapat lukisan cukup lebar, gambar, seorang wanita cantik mengenakan kemben pakaian adat Jawa berselendang dengan rambut terurai. Wanita tersebut konon adalah Nyi Roro Kidul sedang berdiri di atas Laut Jawa. Dupa yang masih mengepul makin menguatkan nuansa mistis dan angker.
Pengunjung yang datang bukan hanya masyarakat Cilacap, tapi juga dari sejumlah wilayah di Jateng, Kebumen, Semarang hingga warga Tasikmalaya, dan Ciamis Jawa Barat.

Di depan petilasan Jambe Lima terdapat bangunan komplek persembahyangan atau Vihara untuk penganut Budha. Dikenal sebagai Vihara Agung Shang Yang Jati, yang dipimpin seorang biksu Banthe Dharma Teja asal Cilacap.
Pedepokan Agung tersebut berupa komplek bangunan yang didirikan di atas ketinggian 200 mdpl. Ada lima bangunan untuk persembahyangan, sebagai simbol rumah dewa. Seperti rumah Dewa Brahma Ci Men Fu lengkap dengan patungnya. Dewa Bumi, Dewi Kwan Im dan Dewa Kwan Kong.
Pada Jumat atau Selasa Kliwon pejiarah dari berbagai kota datang ke Vihara, termasuk para Biksu. Bahkan Biksu dari Thailand pernah mengenjungi Bante. "Pada Jumat Kliwon yang datang hingga 20 - 100 orang untuk bersembahyang di sini (Vihara).
Di komplek tersebut ada tempat ziarah makam Kiai Mahfud Abdurachman (Kiai Somalangu). Untuk ngalap berkah penganut Islam Kejawen Gunung Selok juga ada padepokan yang sengat terkenal, yakni padepokan Jambe Pitu atau pertapaan Ampel Gading, berada di atas petilasan Jambe Lima, menempati puncak paling tinggi di Gunung Selok.

Meski disebut jambe pitu namun di sana tidak ada pinang berjumlah pitu (tujuh). Tempat tersebut salah satu tempat yang digunakan melestarikan aliran kejawen.
Menurut cucu juru kunci padepokan, Mbah Tomo Wiharjo di komplek Jambe Pitu ada tiga petilasan yang dianggap keramat, yang dikunjungi ribuan peziarah. Petilasan menjadi keramat ada pusakanya seperti Petilasan Sang Hyang Wisnu Murti dengan dua pusakanya yaitu Kembang Wijayakusuma atau Eyang Lengkung Kusuma serta Cakra Baskara atau Eyang Lengkung Cuwiri.

sumber ;http://www.metrijayaflorist.com/2012/05/gunung-selok-objek-wisata-spiritual.html